Menjadi Kartini di Masa Kini

Twitter-Post-Kartini2016

Siapa yang nggak kenal Kartini? Perjuangan tokoh pahlawan nasional yang satu ini dulu waktu masih sekolah biasanya kita rayakan pada tanggal 21 April dengan pawai pakaian daerah. Tapi apakah itu aja kontribusi Raden Ajeng Kartini ke sejarah Indonesia? Ternyata nggak. R.A.  Kartini juga termasuk seorang revolusioner pada zamannya.

Di masa ketika perempuan memiliki kesempatan yang sangat terbatas untuk mendapatkan pendidikan dan harus puas dikawinkan dengan bangsawan untuk meneruskan garis keluarga, Kartini berani memperjuangkan haknya untuk menerima pendidikan dan berani untuk mempertanyakan status quo. Dari surat-suratnya dengan sahabat pena dari Belanda, Kartini menceritakan bagaimana dia tidak memahami apa artinya Al-Fatihah, karena pelajaran-pelajaran agama yang diterimanya tidak mengajari arti dari apa yang dia pelajari, dan Kartini berani untuk bertanya kepada guru-guru agamanya tentang arti dari surat ini, walaupun ia pada akhirnya kena marah karena bertanya. Judul buku kumpulan surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang juga sebenarnya merujuk ketika Kartini akhirnya dapat memahami arti dari surat Al-Fatihah.

Walaupun di masa sekarang kesetaraan gender sudah menjadi hal yang lumrah dan perempuan dapat mendapatkan kesempatan yang sama seperti laki-laki, masih ada mindset di mana orang-orang menganggap laki-laki yang selalu harus menjadi kebanggaan keluarga karena pencari nafkah utama sementara kontribusi perempuan sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak di rumah kurang mendapat apresiasi perannya dalam membina keluarga. Di zaman ini banyak sekali perempuan yang sudah menjadi kebanggaan keluarga karena berbagi macam bentuk kontribusinya terhadap keluarga maupun masyarakat. Baik laki-laki maupun perempuan juga bisa belajar dari Kartini dengan memiliki pikiran yang terbuka dan berani mempertanyakan hal-hal yang kurang berkenan dihati untuk terus mengembangkan wawasan yang baik dan positif.

Merayakan perjuangan Kartini jangan hanya dilakukan pada hari Kartini, tapi harus dilakukan setiap hari dengan tetap menjaga agar semangat Kartini untuk menuntut ilmu, menantang status quo, dan terus meningkatkan taraf hidup selalu ada di diri kita semua.